Tips
Mengangkat Kotoran dari Pori-pori dengan Uap Air Panas
Jika caranya salah, menguapi wajah dengan air panas
memang bisa membuat pori-pori jadi besar. Tetapi, dengan cara yang benar,
justru cara ini ampuh membantu Anda untuk menjadi cantik dan merawat kulit.
Manfaat yang bisa dipetik?
1. Menguapi wajah dapat membantu membersihkan kulit
wajah hingga ke pori bagian dalam. Uap akan membawa kulit mati, kotoran, keluar dari dalam pori-pori.
2. Selain itu, komedo putih dan hitam juga akan
melunak. Sehingga Anda bisa menggunakan scrub mengeluarkan semua komedo di
wajah.
3. Menguapi wajah justru membantu menyembuhkan
jerawat. Jerawat yang tadinya hanya merah akan segera matang dan mengeluarkan
kotoran serta minyak di dalamnya. Beberapa klinik memanfaatkan cara ini untuk
mengeluarkan jerawat yang sudah matang.
4. Menguapi wajah juga akan membantu mencegah
penuaan dini. Kulit wajah yang sulit beregenerasi akan terbantu dan terlepas
dari wajah, sehingga kulit selalu baru.
Bagaimanakah cara yang benar?
1. Pertama-tama, siapkan seember air panas kemudian
uapi wajah dengan air tersebut kurang lebih 2-3 menit saja.
2. Saat melakukan pemencetan komedo maupun jerawat,
gunakan kapas/ alat khusus yang sudah disterilkan dengan alkohol.
3. Pulaskan masker sesuai jenis dan kebutuhan
kulit.
4. Bilas dengan air dingin, atau bisa juga
mengompres wajah dengan es batu selama 1 menit.
5. Pakai serum untuk wajah sambil mencubit dan
memijat lembut.
mudah dan terjangkau bukan ? :D dan sekarang pori-pori sudah tertutup dan bersih
Kamis, 24 Januari 2013
Cara Memutihkan Kulit Secara Alami
//
5 Cara Memutihkan Kulit Tubuh Secara Alami
Cara memutihkan kulit tubuh secara umum dapat dilakukan dengan pemakaian produk kosmetik hasil industri, produk herbal atau dengan menggunakan ramuan tradisional alami yang bisa kita buat sendiri di rumah. Ketiga jenis produk pemutih kulit tersebut semuanya mengarah pada pemutihan kulit (skin whitening). Hanya saja, tidak semua orang bisa cocok dengan satu model perawatan kulit. Malah terkadang jika salah dalam memilih dan memakai produk pemutih kulit justru akan memberi efek negatif pada kulit kita.
Jadi untuk memilih pemutih kulit yang baik disarankan untuk menggunakan ramuan herbal alami karena hampir tidak memiliki efek negatif yang bisa merusak kulit kita disamping pertimbangan masalah biaya, cara membuatnya pun terbilang praktis.
Beberapa cara memutihkan kulit tubuh secara alami yang bisa anda buat sendiri di rumah adalah sebagai berikut:
1. Ramuan Jeruk Nipis
Jeruk nipis selain digunakan sebagai penghilang bau amis pada ikan atau ramuan masakan, juga sangat bermanfaat untuk kecantikan dan kesehatan. Perasan air jeruk dapat mengecilkan pori-pori dan menghilangkan kelebihan lemak pada jenis kulit berminyak. Manfaat lainnya adalah untuk memutihkan serta melembutkan kulit.
Gosokkan irisan kulit jeruk pada wajah dan bagian tubuh lainnya sebelum mandi. Jika dilakukan secara rutin, ini akan memberi hasil yang memuaskan berupa kulit yang putih dan halus.
2. Ramuan Jus Alpukat
Kandungan buah alpukat kaya akan vitamin, mineral dan minyak alami. Alpukat mengandung vitamin A, vitamin C dan vitaminE, zat besi, potasium, niasin, asam pantotenik dan protein yang biasanya tidak ditemukan pada semua buah-buahan. Kandungan alpukat tersebut sangat berguna bagi keindahan dan kesehatan kulit.
Untuk memutihkan kulit, campurkan daging buah alpukat yang telah matang 2-3 buah dan air secukupnya kemudian dihaluskan sebagai bahan lulur. Gunakan pasta ini selama 15 menit lalu bilas hingga bersih sebelum anda mandi. Selain dapat memutihkan kulit tubuh secara alami, pasta ini dapat menjaga kelembaban kulit.
3. Masker Mentimun dan Kentang
Penggunaan masker merupakan salah satu upaya untuk memutihkan kulit badan sekaligus menghaluskan kulit secara alami. Beberapa tanaman yang bisa dijadikan masker pemutih kulit tubuh seperti mentimun, tomat, ubi, kentang dan wortel.
Caranya cukup menghaluskan dan menambahkan air secukupnya pada salah satu diantara buah tersebut lalu menerapkannya secara langsung di seluruh kulit kita. Selain dapat memutihkan kulit juga berkhasiat untuk mencerahkan kulit yang kusam.
4. Masker Bengkoang
Cara memutihkan kulit tubuh lainnya seperti menggunakan masker bengkoang dengan cara menghaluskan umbi bengkoang tersebut lalu menerapkannya pada wajah lalu biarkan selama 10-15 menit atau hingga kering lalu dibersihkan. Selain dapat memutihkan kulit, masker bengkoang ini juga bermanfaat untuk menghilangkan flek hitam pada kulit. Silahkan baca selengkapnya artikel kami tentang cara membuat masker bengkoang di sini.
5. Gunakan Produk Pemutih Herbal
Sebenarnya ada cara praktis untuk mendapatkan khasiat bahan-bahan herbal alami di atas, yakni dengan menggunakan produk pemutih herbal, misalnya sabun pemutih herbal dan lulur susu alami.
Cara memutihkan kulit tubuh secara umum dapat dilakukan dengan pemakaian produk kosmetik hasil industri, produk herbal atau dengan menggunakan ramuan tradisional alami yang bisa kita buat sendiri di rumah. Ketiga jenis produk pemutih kulit tersebut semuanya mengarah pada pemutihan kulit (skin whitening). Hanya saja, tidak semua orang bisa cocok dengan satu model perawatan kulit. Malah terkadang jika salah dalam memilih dan memakai produk pemutih kulit justru akan memberi efek negatif pada kulit kita.
Jadi untuk memilih pemutih kulit yang baik disarankan untuk menggunakan ramuan herbal alami karena hampir tidak memiliki efek negatif yang bisa merusak kulit kita disamping pertimbangan masalah biaya, cara membuatnya pun terbilang praktis.
Beberapa cara memutihkan kulit tubuh secara alami yang bisa anda buat sendiri di rumah adalah sebagai berikut:
1. Ramuan Jeruk Nipis
Jeruk nipis selain digunakan sebagai penghilang bau amis pada ikan atau ramuan masakan, juga sangat bermanfaat untuk kecantikan dan kesehatan. Perasan air jeruk dapat mengecilkan pori-pori dan menghilangkan kelebihan lemak pada jenis kulit berminyak. Manfaat lainnya adalah untuk memutihkan serta melembutkan kulit.
Gosokkan irisan kulit jeruk pada wajah dan bagian tubuh lainnya sebelum mandi. Jika dilakukan secara rutin, ini akan memberi hasil yang memuaskan berupa kulit yang putih dan halus.
2. Ramuan Jus Alpukat
Kandungan buah alpukat kaya akan vitamin, mineral dan minyak alami. Alpukat mengandung vitamin A, vitamin C dan vitaminE, zat besi, potasium, niasin, asam pantotenik dan protein yang biasanya tidak ditemukan pada semua buah-buahan. Kandungan alpukat tersebut sangat berguna bagi keindahan dan kesehatan kulit.
Untuk memutihkan kulit, campurkan daging buah alpukat yang telah matang 2-3 buah dan air secukupnya kemudian dihaluskan sebagai bahan lulur. Gunakan pasta ini selama 15 menit lalu bilas hingga bersih sebelum anda mandi. Selain dapat memutihkan kulit tubuh secara alami, pasta ini dapat menjaga kelembaban kulit.
3. Masker Mentimun dan Kentang
Penggunaan masker merupakan salah satu upaya untuk memutihkan kulit badan sekaligus menghaluskan kulit secara alami. Beberapa tanaman yang bisa dijadikan masker pemutih kulit tubuh seperti mentimun, tomat, ubi, kentang dan wortel.
Caranya cukup menghaluskan dan menambahkan air secukupnya pada salah satu diantara buah tersebut lalu menerapkannya secara langsung di seluruh kulit kita. Selain dapat memutihkan kulit juga berkhasiat untuk mencerahkan kulit yang kusam.
4. Masker Bengkoang
Cara memutihkan kulit tubuh lainnya seperti menggunakan masker bengkoang dengan cara menghaluskan umbi bengkoang tersebut lalu menerapkannya pada wajah lalu biarkan selama 10-15 menit atau hingga kering lalu dibersihkan. Selain dapat memutihkan kulit, masker bengkoang ini juga bermanfaat untuk menghilangkan flek hitam pada kulit. Silahkan baca selengkapnya artikel kami tentang cara membuat masker bengkoang di sini.
5. Gunakan Produk Pemutih Herbal
Sebenarnya ada cara praktis untuk mendapatkan khasiat bahan-bahan herbal alami di atas, yakni dengan menggunakan produk pemutih herbal, misalnya sabun pemutih herbal dan lulur susu alami.
Jumat, 18 Januari 2013
Siapa Bilang Kamu Nggak Cantik..?
CANTIK....
Bagi sebagian wanita, Beberapa orang mungkin mempunyai persepsi beda-beda tentang cantik.
Bahkan ada yang bilang kalau cantik itu relatif. Itu benar.
Tapi saya tambahkan sebait puisi beriku sebagai Motivasi:
Menjadi wanita itu kehendak Tuhan
Menjadi Cantik itu relatif
Menjadi muslimah itu anugrah
Tetapi menjadi muslimah yg sholehah itu PILIHAN !
Namun, seiring dengan maraknya produk-produk kecantikan di TV. Kita jadi berpikir kalau yang di sebut wanita cantik itu adalah yang seperti model di produk kecantikan tersebut. Seperti barbie.. Berkulit putih, berhidung mancung, berbibir tipis, dan semua yang tampak pada si model.
Sehingga terciptalah image, bahwa wanita yang berkulit gelap, hidungnya mancung ke dalam dan berbibir tebal itu adalah wanita yang jelek.
jika sekarang kamu merasa kalau wajahmu gak cantik. Cobalah pandang kembali wajahmu ke cermin. Lihatlah betapa Allah telah menyempurnakan bentuk wajahmu. Bayangkanlah jika seandainya Allah menciptakan lubang hidungmu bukan menghadap ke bawah, tapi ke depan. Bisa kita bayangkan apa yang terjadi jika ada lalat dan nyamuk yang terbang nyasar ke dalam hidung mu. Atau jika Allah menciptakan lubang hidung mu menghadap ke atas, bisa dibayangkan jika musim hujan tiba . Hidung kita akan menampung air hujan yang turun dari langit.
Atau bisa kamu bayangkan jika Allah menciptakan sepasang matamu ditaruh dijidat atau telingamu hanya sebelah. Wah, bentuknya pasti gak karuan rupa. Jangankan manusia yg melihatnya, hantupun juga akan takut melihatnya...hihi..
Sungguh Maha Suci Allah atas semua ciptaan-Nya. Karena Allah sendiri yang bersumpah dalam firman-Nya :
“ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
” (QS. At-Tin: 4)
Sungguh, mudah bagi Allah menciptakan seluruh wanita di dunia ini dengan wajah yang cantik semua. Tapi dengan begitu, kita jadi sama. Tidak ada yang menjadi pembedanya. Kita jadi sulit mengenal jika wajah kita sama semua.
Allah ingin menciptakan keindahan di dunia ini, dengan banyak perbedaan di dalamnya....
Maka biarlah kita menjadi salah satu yang indah itu. Dengan segala perbedaan di antara kita....
Aku jadi teringat dialog salah seorang sahabatku dengan mamanya beberapa tahun yang lalu.
“ Ma, hidung Aya kok pesek sih? Gak kayak temen-temen Aya yang lain. Aya jadi keliatan jelek. ”
Waktu itu mamanya ketawa, dan bilang :
“ Aya harus bersyukur karena di beri hidung sama Allah. Coba bayangin kalo Aya gak di kasih hidung sama Allah? Trus siapa yang bilang kalau hidung pesek itu jelek? Buktinya banyak kok yang hidungnya mancung tapi kelihatan jelek. Sedangkan Aya, walaupun pesek tapi cantik. Aya anak mama yang paling cantik.. ”
Ya jelas aja mama bilang kalo aku adalah anaknya yang paling cantik, karena adek-adeknya 'kan cowok semua.
Tapi waktu itu Aya serasa melambung ke langit, karena di puji oleh mama. Dan ketika Aya beranjak dewasa, Aya tau mamanya hanya ingin membuat Aya merasa selalu bersyukur atas pemberian-Nya.
Yaa syukur. Itulah perasaan yang harus kita miliki. Bukan perasaan minder dan sedih.
Bersyukurlah, karena Allah menciptakan mu dengan sempurna. Bersyukurlah, karena banyak yang telah Dia beri pada mu, pada kita. Bahkan jika kita mencoba menghitung nikmat-Nya, tidak akan cukup waktu kita untuk menghitungnya.
Bersyukurlah....Seperti yang Dia katakan padamu :
“ Jika engkau bersyukur kepada-Ku, niscaya akan Ku tambah nikmat-Ku kepadamu. Namun jika engkau mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku amat pedih. ” (QS. Ibrahim : 7)
Aku pun jadi teringat dengan ucapan salah seorang temanku beberapa waktu lalu,
“aku ini jelek, pasti nggak ada ikhwan yang mau jadi suami ku.”
Tapi ternyata, 4 bulan sesudahnya dia menikah. Subhanallah..
Masyaallah..jika ada pikiran suudzon kepada Allah terlintas di dada dan otakmu tentang bentuk wajahmu ,maka Ingatlah kembali janji-Nya pada kita,
“ ....perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik..... ” (QS. An-Nur : 26)
Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya
Di ayat itu, Allah tidak berfirman kalau perempuan-perempuan yang cantik untuk laki-laki yang baik.
Bukan,.bukan cantik....tapi baik !
Maka perbaikilah diri kita dengan akhlak Qur’ani, bukan malah mempercantik diri dengan make-up tebal seperti wanita-wanita jahiliyah di zaman Rasulullah dulu.
jangalah kita bertabaruj, seperti menipu orang lain
menipu dengan memakai pemerah pipi yang tebal, pemerah bibir, soflens yang berwarna warni.
Percayalah ! Laki-laki itu datang bukan karena kecantikan, kekayaan dan kepandaianmu.
Bukan, Ukhti...!! tapi karena Allah lah yang menggerakkan hatinya untuk mengkhitbahmu, untuk menyempurnakan setengah agama bersama-sama denganmu.
maka tunggulah janji Allah itu, karena janji Allah akan pasti datangnya.
Kalaupun tidak di dunia ini, insyaallah... Allah mempertemukanmudengannya di alam yang abadi....alam yang tidak ada keburukan di dalamnya....hanya ada keindahan....
insyaallah....
Jadi, jangan merasa minder atau sedih jika ada yang mengatakan kalau wajahmu gak cantik.
Karena Allah yang menjamin, bahwa Dia telah menciptakanmu dengan sebaik-baiknya bentuk.
Dan bila rasa sedih itu masih ada karena seisi dunia menganggapmu bukanlah wanita yang cantik, dengarkanlah kembali firman-Nya yang dapat menenangkan hatimu....
“ Dan janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati. Sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang yang beriman. ” (QS. Ali ‘Imran : 139)
Percayalah.. Beratnya timbangan amalanmu di Hari Akhir nanti tidak lah di tentukan dengan seberapa banyak orang di dunia ini yang menganggap kamu cantik. Tapi seberapa banyak orang di dunia ini yang menganggap kamu baik. Insyaallah, mereka akan menjadi saksi di hadapan Allah atas semua amal kebaikanmu....
Insyaallah....
Untuk yang terakhir, izinkan aku mengutip salah satu kalimat dari sebuah buku yang pernah ku baca:
“ Semua bunga itu cantik. Tidak ada bunga yang tidak cantik, walaupun mekar dengan cara yang berbeda-beda. ”
Subhanallah, kita semua cantik Ukhti !
Dan semoga, kita bukan hanya cantik, tapi juga baik.....
Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua.
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci..
Bagi sebagian wanita, Beberapa orang mungkin mempunyai persepsi beda-beda tentang cantik.
Bahkan ada yang bilang kalau cantik itu relatif. Itu benar.
Tapi saya tambahkan sebait puisi beriku sebagai Motivasi:
Menjadi wanita itu kehendak Tuhan
Menjadi Cantik itu relatif
Menjadi muslimah itu anugrah
Tetapi menjadi muslimah yg sholehah itu PILIHAN !
Namun, seiring dengan maraknya produk-produk kecantikan di TV. Kita jadi berpikir kalau yang di sebut wanita cantik itu adalah yang seperti model di produk kecantikan tersebut. Seperti barbie.. Berkulit putih, berhidung mancung, berbibir tipis, dan semua yang tampak pada si model.
Sehingga terciptalah image, bahwa wanita yang berkulit gelap, hidungnya mancung ke dalam dan berbibir tebal itu adalah wanita yang jelek.
jika sekarang kamu merasa kalau wajahmu gak cantik. Cobalah pandang kembali wajahmu ke cermin. Lihatlah betapa Allah telah menyempurnakan bentuk wajahmu. Bayangkanlah jika seandainya Allah menciptakan lubang hidungmu bukan menghadap ke bawah, tapi ke depan. Bisa kita bayangkan apa yang terjadi jika ada lalat dan nyamuk yang terbang nyasar ke dalam hidung mu. Atau jika Allah menciptakan lubang hidung mu menghadap ke atas, bisa dibayangkan jika musim hujan tiba . Hidung kita akan menampung air hujan yang turun dari langit.
Atau bisa kamu bayangkan jika Allah menciptakan sepasang matamu ditaruh dijidat atau telingamu hanya sebelah. Wah, bentuknya pasti gak karuan rupa. Jangankan manusia yg melihatnya, hantupun juga akan takut melihatnya...hihi..
Sungguh Maha Suci Allah atas semua ciptaan-Nya. Karena Allah sendiri yang bersumpah dalam firman-Nya :
“ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
” (QS. At-Tin: 4)
Sungguh, mudah bagi Allah menciptakan seluruh wanita di dunia ini dengan wajah yang cantik semua. Tapi dengan begitu, kita jadi sama. Tidak ada yang menjadi pembedanya. Kita jadi sulit mengenal jika wajah kita sama semua.
Allah ingin menciptakan keindahan di dunia ini, dengan banyak perbedaan di dalamnya....
Maka biarlah kita menjadi salah satu yang indah itu. Dengan segala perbedaan di antara kita....
Aku jadi teringat dialog salah seorang sahabatku dengan mamanya beberapa tahun yang lalu.
“ Ma, hidung Aya kok pesek sih? Gak kayak temen-temen Aya yang lain. Aya jadi keliatan jelek. ”
Waktu itu mamanya ketawa, dan bilang :
“ Aya harus bersyukur karena di beri hidung sama Allah. Coba bayangin kalo Aya gak di kasih hidung sama Allah? Trus siapa yang bilang kalau hidung pesek itu jelek? Buktinya banyak kok yang hidungnya mancung tapi kelihatan jelek. Sedangkan Aya, walaupun pesek tapi cantik. Aya anak mama yang paling cantik.. ”
Ya jelas aja mama bilang kalo aku adalah anaknya yang paling cantik, karena adek-adeknya 'kan cowok semua.
Tapi waktu itu Aya serasa melambung ke langit, karena di puji oleh mama. Dan ketika Aya beranjak dewasa, Aya tau mamanya hanya ingin membuat Aya merasa selalu bersyukur atas pemberian-Nya.
Yaa syukur. Itulah perasaan yang harus kita miliki. Bukan perasaan minder dan sedih.
Bersyukurlah, karena Allah menciptakan mu dengan sempurna. Bersyukurlah, karena banyak yang telah Dia beri pada mu, pada kita. Bahkan jika kita mencoba menghitung nikmat-Nya, tidak akan cukup waktu kita untuk menghitungnya.
Bersyukurlah....Seperti yang Dia katakan padamu :
“ Jika engkau bersyukur kepada-Ku, niscaya akan Ku tambah nikmat-Ku kepadamu. Namun jika engkau mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku amat pedih. ” (QS. Ibrahim : 7)
Aku pun jadi teringat dengan ucapan salah seorang temanku beberapa waktu lalu,
“aku ini jelek, pasti nggak ada ikhwan yang mau jadi suami ku.”
Tapi ternyata, 4 bulan sesudahnya dia menikah. Subhanallah..
Masyaallah..jika ada pikiran suudzon kepada Allah terlintas di dada dan otakmu tentang bentuk wajahmu ,maka Ingatlah kembali janji-Nya pada kita,
“ ....perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik..... ” (QS. An-Nur : 26)
Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya
Di ayat itu, Allah tidak berfirman kalau perempuan-perempuan yang cantik untuk laki-laki yang baik.
Bukan,.bukan cantik....tapi baik !
Maka perbaikilah diri kita dengan akhlak Qur’ani, bukan malah mempercantik diri dengan make-up tebal seperti wanita-wanita jahiliyah di zaman Rasulullah dulu.
jangalah kita bertabaruj, seperti menipu orang lain
menipu dengan memakai pemerah pipi yang tebal, pemerah bibir, soflens yang berwarna warni.
Percayalah ! Laki-laki itu datang bukan karena kecantikan, kekayaan dan kepandaianmu.
Bukan, Ukhti...!! tapi karena Allah lah yang menggerakkan hatinya untuk mengkhitbahmu, untuk menyempurnakan setengah agama bersama-sama denganmu.
maka tunggulah janji Allah itu, karena janji Allah akan pasti datangnya.
Kalaupun tidak di dunia ini, insyaallah... Allah mempertemukanmudengannya di alam yang abadi....alam yang tidak ada keburukan di dalamnya....hanya ada keindahan....
insyaallah....
Jadi, jangan merasa minder atau sedih jika ada yang mengatakan kalau wajahmu gak cantik.
Karena Allah yang menjamin, bahwa Dia telah menciptakanmu dengan sebaik-baiknya bentuk.
Dan bila rasa sedih itu masih ada karena seisi dunia menganggapmu bukanlah wanita yang cantik, dengarkanlah kembali firman-Nya yang dapat menenangkan hatimu....
“ Dan janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati. Sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang yang beriman. ” (QS. Ali ‘Imran : 139)
Percayalah.. Beratnya timbangan amalanmu di Hari Akhir nanti tidak lah di tentukan dengan seberapa banyak orang di dunia ini yang menganggap kamu cantik. Tapi seberapa banyak orang di dunia ini yang menganggap kamu baik. Insyaallah, mereka akan menjadi saksi di hadapan Allah atas semua amal kebaikanmu....
Insyaallah....
Untuk yang terakhir, izinkan aku mengutip salah satu kalimat dari sebuah buku yang pernah ku baca:
“ Semua bunga itu cantik. Tidak ada bunga yang tidak cantik, walaupun mekar dengan cara yang berbeda-beda. ”
Subhanallah, kita semua cantik Ukhti !
Dan semoga, kita bukan hanya cantik, tapi juga baik.....
Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua.
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci..
Senin, 14 Januari 2013
ini kisah awal aku memakai jilbab
Memang di sekolahku tidak diharuskan semua siswi untuk memakai jilbab, namun sejak dari dulu aku sudah berkeinginan untuk berjilbab. Bahkan tak jarang mencoba coba jilbab mama sambil bercermin centil :D maklumlah saat itu aku masih duduk di sekolah dasar. Namun niatan itu baru bisa dilakukan beberapa bulan yang lalu.
Tapi saat itu.. karena belum terbiasa,
tanganku masih gatal untuk membenar-benarkan jilbab. Sebentar sebentar ke wc sebentar
sebentar ke wc untuk melepas dan membenarkannya *astagfirullah! -_-*
Banyak pernyataan dan pertanyaan yang dilontarkan teman teman, seperti :
Pernyataan yang pernah saya baca dan dengar, menujukan keberatan untuk berjilbab:
“ngapain sih pake jilbab, masih muda kan jadi ga keliatan cantiknya”
“saya
mau pakai jilbab tapi jika sudah nikah nanti”
“mending tidak usah berjilbab aja,
daripada kaya si A berjilbab tapi masih sering berbuat maksiat”..
“saya belum bisa memperbaiki prilaku
saya, jadi saya belum siap berjilbab nanti aja berjilbabnya”
“saya sebenarnya ingin berjilbab tapi
masih malu belum terbiasa memakainya”
Dan pertanyaan ketika saya berjilbab:
“din, kamu sekarang pakai jilbab ? kenapa ih ? padahal sayang loh rambutnya..”
“din, kamu sekarang pakai jilbab ? kenapa ih ? padahal sayang loh rambutnya..”
“ih dinaa... sayang sekarang rambutnya
ketutup. Padahal kan rambut itu mahkota cewe loh...”
yaa, beberapa pernyataan dan
pertanyaan itu memang pernah aku alami dan memang banyak orang yang beranggapan
rambut adalah sebagai mahkota wanita... Tapi, kalau tidak sekarang kapan lagi ?!
aku benar benar takut kalau malaikat
maut itu menjemputku besok, hari ini, sejam lagi, atau bahkan 1 menit lagi !
Allah memerintahkan wanita untuk berjilbab pasti ada alasannya, dan pasti alasan yang baik untuk kita. sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Kasih Sayang dan Maha Bijaksana kepada hamba-hamba-Nya.
Alhamdulillah aku bersukur telah di
beri hidayah untuk memakai jilbab, karena masih banyak perempuan perempuan
disana yang belum menutupi auratnya. Dan alhamdulillah hingga saat ini aku
masih berjilbab J terima kasih Ya Allah
Dekatlah diri
kepada Allah dari sekarang sebelum Allah memutuskan cara agar dekat denganNya
dengan cara yang tidak kita suka (sakit, musibah, azab)
*naudzubillah mindzalik*
Kuasa Allah itu besar dan benar, percayailah kepada Maha PenciptaMu
syukron .
Habis Baca Dan Lihat jangan lupa tinggalkan Komentarnya :) Dina Rosita Mardiana ( @dinarositam )
Minggu, 13 Januari 2013
pemula
masih pemula, hapunten maaf, afwan kalo banyak yang harus di perbaiki hehe. belajar boleh kan ??? :)
Jumat, 02 November 2012
Bidadari Surga (ISLAM)
Sumber
ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadist banyak memuat penjelasan
tentang kondisi di surga terkait dengan keberadaan bidadari ini.
Beberapa hadist (sekurang-kurangnya melalui terjemahan Bahasa Inggeris
atau Indonesia) memberikan gambaran tentang adanya hubungan seksual di
surga, disamping adanya penjelasan Rasulullah tentang surga yang ‘tidak
pernah terlihat oleh mata dan terpikirkan oleh pikiran’ –
Untuk itu, mari kita coba mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita sendiri tentang bidadari di sorga melalui cara ‘mengutak-utik’ informasi yang tersedia di dalam Al-Qur’an.
Dari terjemahan Al-Qur’an berbahasa Indonesia kita menemukan sekurang-kurangnya 8 kelompok ayat yang memuat kata tentang bidadari di surga. Dari 8 kelompok ayat tersebut hanya 3 ayat yang menyebut secara jelas tentang bidadari, yaitu kata ‘huurin ‘iin’: kadzaalika wazawwajnaahum bihuurin ‘iinin"
[44:54] demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.muttaki-iina ‘alaa sururin mashfuufatin wazawwajnaahum bihuurin ‘iinin"
[52:20] mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.Wahuurun ‘iinun, ka-amtsaali allu/lui almaknuuni
[56:22] Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli,
[56:23] laksana mutiara yang tersimpan baik.
kata bidadari melalui kata ganti termuat dalam 5 kelompok ayat Al-Qur’an:
1wa’indahum qaasiraatu alththharfi ‘iinun, ka-annahunna baydhun maknuunun
[37:48] Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya,
[37:49] seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.
wa’indahum = dan disisi merekaqaasiraatu = tidak liar pandanganatthafri = ujung/mata‘inun = mata2. wa’indahum qaasiraatu alththharfi atraabun
[38:52] Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.
wa’indahum = dan disisi mereka qaasiraatu = tidak liar pandangan atthafri = ujung/mata atraabun = sebaya3. fiihinna qaasiraatu alththharfi lam yathmitshunna insun qablahum walaa jaannun, ka-annahunna alyaaquutu waalmarjaanu
[55:56] Di dalam sorga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.
[55:58] Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.fiihinna = didalamnya mereka qaasiratu = pendek/menundukkan athafri = ujung/mata lamyathmitshunna = tidak/belum menyentuh mereka insun = manusia4. fiihinna khayraatun hisaanun, huurun maqshuuraatun fii alkhiyaami
[55:70] Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.
[55:72] (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.fiihinna = di dalamnya mereka khayraatun = baik-baik hisaanun = bagus-bagus/cantik-cantik huurun = yang putih/jelita maqsuuraatun = tersimpan/terpingit filkhiyaami = dalam mahligai/rumah5. innaa ansya/naahunna insyaan, faja’alnaahunna abkaaraan, ‘uruban atraabaan
[56:35] Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung
[56:36] dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.
[56:37] penuh cinta lagi sebaya umurnya.inna = sesungguhnya Kami ansya’naahunna = Kami jadikan mereka insyaa’an = dengan kejadian faja’alnaahunna = maka kami jadikan mereka abkaaran = gadis-gadis perawan.
Dari kelima kelompok ayat tersebut hanya yang nomer 5 yang secara jelas menyebut objek yang dimaksud adalah berjenis kelamin wanita, sedangkan keempat ayat lainnya tidak secara jelas mengindikasikan apakah yang dimaksud adalah wanita atau bukan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia kelompok ayat nomer 5 dibuat penjelasan dalam tanda kurung ‘bidadari’. Tafsir Jalalain juga memberikan penjelasan bahwa makhluk yang diciptakan tersebut adalah bidadari sekalipun Al-Qur’an tidak menyebut objeknya, dan kata ‘insyaa’an’ diartikan dengan kata ‘langsung’ yaitu yang diciptakan tanpa melalui proses kelahiran terlebih dahulu, sedangkan Tafsir Al-Mishbah tidak mengartikannya sebagai ‘bidadari’ dan tetap memakai kata ganti ‘mereka’, sedangkan kata ‘insyaa’an’ ditafsirkan dengan kata ‘sempurna’, sehingga bunyinya: ”Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan penciptaan sempurna.”, suatu penafsiran yang belum tentu berarti ‘diciptakan tanpa melalui proses kelahiran’.
Selanjutnya Ustadz Quraish Shihab menjelaskan kalimat ‘lagi sebaya umurnya’ dengan menyampaikan hadist diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bahwa seorang wanita tua datang kepada Nabi Muhammad SAW memohon dido’akan agar masuk surga. Nabi menjawabnya dengan bersabda (dengan tujuan bergurau sambil mengajar):”Beritahu wanita itu, bahwa dia tidak akan memasukinya dalam keadaan tua. Sesungguhnya Allah berfirman (lalu beliau membacakan ayat-ayat diatas) . Hadist ini diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani, namun oleh Ibnu Hajar dinilai merupakan hadist lemah.
Kalau kita merujuk kepada penjelasan ini maka ‘diduga keras’ wanita yang dimaksud QS[56:35-37] adalah manusia biasa yang mendapat anugerah surga dan bukan bidadari seperti yang dimaksud dengan kata ‘huurin ‘iin’ dalam QS[44:54], QS[52:20], QS[56:22].
Dalam keempat kelompok ayat yang lain, Al-Qur’an menyampaikan adanya ‘sesuatu’ di surga yang mempunyai ciri-ciri: punya pandangan yang tidak liar, jelita matanya ibarat telur burung unta, berumur sebaya, sopan dan selalu menundukkan pandangan, belum pernah disentuh manusia, seperti permata yakut dan marjan, yang cantik (atau bagus), putih dan tersimpan dalam mahligai.
Kita tentunya boleh saja mengartikan ciri-ciri ini secara fisik dan harfiah dan itu mempunyai ‘peluang besar’ menuju kepada sosok wanita. Namun tidak salah juga kalau beberapa ahli tafsir mengartikan ciri-ciri tersebut secara majaazi, bahwa maksud ‘pandangan tidak liar’ adalah ‘sesuatu’ tersebut punya perhatian hanya terbatas kepada pasangannya, pandangan yang terbuka lebar penuh perhatian, murni, tulus dan setia kepada pasangan, intinya betul-betul merupakan ‘sesuatu’ yang cocok di hati. Keempat kelompok ayat tersebut tidak menjelaskan apa jenis kelamin ‘sesuatu’ itu. Dan ternyata ini juga sejalan dengan pengertian kata ‘huurin ‘iin’.
Penjelasan ini juga tidak membatasi penafsiran bahwa yang dimaksud adalah ‘sesuatu’ yang diciptakan di surga atau merupakan manusia yang menjadi penghuni surga, baik laki-laki maupun perempuan.Tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa kata ‘hur’ adalah bentuk jamak dari kata ‘hauraa’ yang pertama menunjuk kepada jenis kelamin feminin dan yang kedua jenis maskulin. Ini berarti bahwa kata ‘hur’ adalah kata yang netral kelamin – bisa laki-laki dan bisa perempuan. Kata ‘hur’ sendiri menurut ar-Raghib al-Ashfahaani adalah tampak sedikit keputihan pada mata disela kehitamannya (dalam arti yang putih sangat putih dan yang hitam sangat hitam). Bisa juga ia berarti ‘bulat’, ada juga yang mengartikan ‘sipit’. Sedangkan kata ‘iin’ adalah jamak dari kata ‘aina’ dan ‘ain’ yang berarti’ bermata besar dan indah’.
Penjelasan kata ‘huurin ‘iin’ berdasarkan arti katanya ternyata sejalan dengan bunyi ayat lain tentang ‘sesuatu’ yang akan menjadi pasangan manusia yang masuk surga nantinya.Pertanyaan muncul dengan adanya ayat [52:20] ..dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. Kata ‘dikawinkan’ berasal dari kata ‘zawwajnaahum’ tidak dipahami dalam arti mengawinkan. Ini bukan saja karena di akherat ini tidak ada lagi ‘taklif’ dan kewajiban syariat berupa akad nikah dan lain-lainnya, tetapi juga karena ayat diatas menggunakan idiom ‘bi’ ketika menggunakan kata ‘zawwaja’.
Biasanya kata mengawinkan diungkapkan tanpa menyertakan idiom ‘bi’ yakni ‘zawwaja fulanah’ atau dalam konteks ayat ini – jika yang dimaksud dengannya mengawinkan tentu redaksinya ‘zawwajnaahum Huur ‘in’ dan bukan ‘zawwajnaahum bihuurin ‘iinin. Kalau begitu maka arti kata ‘zawwajnaahum’ bisa kita artikan lebih luas dan tidak hanya terbatas pada hubungan perkawinan antara laki-laki dan wanita. Kata ini mungkin boleh diartikan dengan ‘dipasangkan’ yang punya arti luas.Sekarang kita coba mencari penjelasan Al-Qur’an tentang adanya hubungan antar penghuni surga, misalnya disampaikan dalam ayat ini:
[2:25] "Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya."
Dalam tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin al-Mahalli secara jelas mengartikan ‘azwaajun muthahharatun’ sebagai isteri-isteri yang disucikan, sedangkan dalam Tafsir Al-Mishbah, Ustadz Quarish Shihab mengartikannya dengan ‘pasangan-pasangan yang disucikan’, sekalipun dalam beberapa penjelasannya beliau menyinggung bahwa yang dimaksud pasangan itu adalah suami atau isteri. Kalimat ‘azwaajun muthahharatun’ terkait dengan surga ini juga diungkapkan dalam QS[3:15], QS[4:57]. Kata ’azwaajun’ juga dipakai dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang merujuk kepada ‘istri’ antara lain pada ayat QS[2:232], QS[9:24], QS[24:6]. QS[64:14], QS[66:5], dst. Sedangkan kata yang sama dan diartikan ‘pasangan’ digunakan pada ayat: QS[78:8], QS[6:143], QS[35:11], QS[36:36], QS[38:58], kata ‘pasangan’ pada ayat terakhir tidak selalu diartikan sebagai suami atau istri, misalnya QS [6:143] ..(yaitu) delapan binatang yang berpasangan (tsamaaniyata azwaajin).
Berdasarkan beberapa penjelasan ayat Al-Qur’an diatas, marilah kita mencoba untuk ‘berandai-andai’ tentang surga.
Ternyata Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa di surga, manusia yang jadi penghuninya mempunyai pasangan dan hal tersebut tidak selalu diartikan sebagai pasangan suami istri, dan yang dikatakan sebagai ‘bidadari’ itu ternyata tidak hanya terbatas pada pengertian pasangan wanita saja. Persoalan ini tidaklah aneh dalam sejarah penafsiran Al-Qur’an, karena sebagai firman Allah, kemampuan kita untuk menafsirkannya sangat terbatas. Ketika Allah menyampaikan hanya satu kata firman-Nya, kelihatan tidak cukup jutaan buku yang dibuat manusia untuk menjelaskan maknanya, Allah menyatakan:
[18:109] "Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.
[31:27] "Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Maka ketika manusia berusaha menjelaskan kalimat-kalimat Allah, apalagi yang terkait dengan sesuatu yang (masih) ghaib, tidak akan habis-habisnya manusia memberikan penafsirannya, hebatnya seluruh penafsiran tersebut seolah-olah ‘tenggelam’ dalam kalimat-kalimat Allah tersebut.Di sisi lain, Al-Qur’an juga bisa berfungsi sebagai cermin bagi manusia, memantulkan apa yang ada dalam diri kita ketika berhadapan dengannya.
Pada mulanya Al-Qur’an diturunkan pada bangsa Arab dan para penafsir awal adalah kaum laki-laki dari bangsa tersebut, maka mereka yang memang terkenal punya karakter ‘manusia gurun yang perkasa’ terutama terkait dengan wanita, ayat tersebut ‘memantulkan’ karakter tersebut sehingga muncul penafsiran yang ‘berpihak’ kepada kaum lelaki yang menggambarkan wanita cantik, putih bersih, setia, tunduk, dan inilah penafsiran yang muncul bertahun-tahun sehingga membentuk ‘stereotip’ tentang surga yang dipenuhi bidadari. Tentu saja ini tidaklah salah karena seperti disebutkan sebelumnya, penafsiran ini seolah-olah ‘tenggelam’ di dalamnya dan artinya tetap bisa diterima.
Namun bagaimana kalau yang berhadapan dengan ayat tersebut adalah seorang wanita? Kita juga ‘mempersilahkan’ wanita tersebut ‘berandai-andai’ bahwa di surga nanti dia akan menemui pasangan, bisa seorang suami, bisa juga suaminya yang di dunia, bisa juga wanita lain sebagai sahabat ‘sejiwa’, teman terdekat yang tidak akan mengkhianati dan yang selalu mendampingi, tidak seperti pasangannya di dunia seperti kekasih, suami, sahabat yang (hampir dapat) dipastikan pernah berkhianat.
Misalkan seorang yang terobsesi untuk menjadi vokalis group heavy metal, namun sayang cita-citanya kandas karena umurnya sudah menjelang ’50-an dan group musik yang dibentuknya ketika remaja hancur berantakan akibat ketidak-kompakan. Apakah kira-kira yang akan dia khayalkan kalau nantinya dia bisa masuk surga? Sangat boleh jadi di surga nanti dia ingin menjadi vokalis dan rocker terkenal, seperti Ian Gillan ataupun Ronny james Dio. Dapatkah kita menebak siapa kira-kira yang akan menjadi ‘bidadari’nya? Maka yang akan menjadi ‘huurin ‘iin’ adalah teman satu group, bisa gitaris model Ritchie Blackmore atau Steve Morse atau drummer jagoan dari grup Deep Purple seperti Ian paice, dll. Temannya tersebut akan menjadi pasangan yang setia, group musiknya tidak bakalan bubar, anggota yang lain hanya punya perhatian dan pandangan terfokus padanya, itulah yang menjadi ‘bidadari’ miliknya di surga nanti, demikian pula dia terhadap sahabat-sahabatnya.
Atau katakanlah anda terobsesi menjadi pemain bola seperti David Beckham, maka yang menjadi ‘huurin ‘iin’ anda adalah pemain lain seperti Garry Neville atau Wayne Rooney serta punya ‘huurin ‘iin’ pelatih sehebat Sir Alex Ferguson. ‘Huurin ‘iin’ anda tersebut merupakan anggota se team anda yang selalu tahu dan mengerti apa maunya anda, mampu memberikan ‘umpan-umpan matang’ agar anda bisa beraksi.
Namun rasanya boleh-boleh saja jika anda adalah seorang yang punya 'naluri edan' model Kaisar Caligula, kaisar Romawi yang gemar mengoleksi perempuan sehingga singgasananya selalu dikelilingi puluhan wanita cantik dan seksi, maka ‘huurin ‘iin’ anda di surga ‘tidak akan jauh-jauh’ dari hal tersebut.
Kalaupun kemudian kita bertanya: ”Lalu, apa maksudnya Allah sengaja memberikan ‘sesuatu’ kelak di surga yang akan menjadi pasangan manusia penghuninya? Apa perlunya?”
Kita mengetahui bahwa manusia adalah makhluk sosial karena tidak bakalan bisa hidup sendiri. Kelihatannya di surga nanti nalurinya sebagai makhluk sosial tidak akan berubah. Maka ketika kelak manusia bersosialisasi di surga dia akan berhadapan dan berinteraksi dengan makhluk-makhluk lain. Dengan menyampaikan adanya ‘huurin ‘iin’ ini, maka Allah – yang sangat mengerti tentang manusia – tidak hanya menyiapkan, makanan dan minuman dan tempat tinggal yang indah, tapi juga menyiapkan ‘masyarakat’ tempat para penghuninya bersosialisasi dan berinteraksi.Ternyata ‘bidadari’ di surga tidak harus perempuan, dan hubungan kita dengannya tidak harus berupa hubungan seksual. Apa yang kita tafsirkan dari penjelasan Al-Qur’an tentang itu merupakan ‘pantulan’ dari obsesi kita sendiri, Allah berfirman:
[43:71] "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”.
Semasa belajar mengaji di madrasah dulu, pak ustadz pernah mengatakan lebih kurang begini:
"Kelak, jika kalian beruntung masuk sorga, maka apa pun keinginan yang terlintas di benak kalian, niscaya akan segera dipenuhi oleh Allah, bahkan sebelum kalian sendiri sempat mengejapkan mata!"
Artinya, apa yang disediakan oleh Allah di sorga meliputi segala sesuatu yang diinginkan oleh setiap penghuni sorga sendiri. Jadi, apa pun wujud keinginan itu, menjadi sangat tergantung pada angan-angan seseorang. Boleh jadi itu mesum dan boleh jadi juga tidak. Tapi semua itu hanya dapat dibuktikannya sendiri jika dia sangat beruntung dan kelak diijinkan oleh Allah untuk masuk sorga!
Untuk itu, mari kita coba mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita sendiri tentang bidadari di sorga melalui cara ‘mengutak-utik’ informasi yang tersedia di dalam Al-Qur’an.
Dari terjemahan Al-Qur’an berbahasa Indonesia kita menemukan sekurang-kurangnya 8 kelompok ayat yang memuat kata tentang bidadari di surga. Dari 8 kelompok ayat tersebut hanya 3 ayat yang menyebut secara jelas tentang bidadari, yaitu kata ‘huurin ‘iin’: kadzaalika wazawwajnaahum bihuurin ‘iinin"
[44:54] demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari.muttaki-iina ‘alaa sururin mashfuufatin wazawwajnaahum bihuurin ‘iinin"
[52:20] mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.Wahuurun ‘iinun, ka-amtsaali allu/lui almaknuuni
[56:22] Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli,
[56:23] laksana mutiara yang tersimpan baik.
kata bidadari melalui kata ganti termuat dalam 5 kelompok ayat Al-Qur’an:
1wa’indahum qaasiraatu alththharfi ‘iinun, ka-annahunna baydhun maknuunun
[37:48] Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya,
[37:49] seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.
wa’indahum = dan disisi merekaqaasiraatu = tidak liar pandanganatthafri = ujung/mata‘inun = mata2. wa’indahum qaasiraatu alththharfi atraabun
[38:52] Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.
wa’indahum = dan disisi mereka qaasiraatu = tidak liar pandangan atthafri = ujung/mata atraabun = sebaya3. fiihinna qaasiraatu alththharfi lam yathmitshunna insun qablahum walaa jaannun, ka-annahunna alyaaquutu waalmarjaanu
[55:56] Di dalam sorga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.
[55:58] Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.fiihinna = didalamnya mereka qaasiratu = pendek/menundukkan athafri = ujung/mata lamyathmitshunna = tidak/belum menyentuh mereka insun = manusia4. fiihinna khayraatun hisaanun, huurun maqshuuraatun fii alkhiyaami
[55:70] Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.
[55:72] (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.fiihinna = di dalamnya mereka khayraatun = baik-baik hisaanun = bagus-bagus/cantik-cantik huurun = yang putih/jelita maqsuuraatun = tersimpan/terpingit filkhiyaami = dalam mahligai/rumah5. innaa ansya/naahunna insyaan, faja’alnaahunna abkaaraan, ‘uruban atraabaan
[56:35] Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung
[56:36] dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.
[56:37] penuh cinta lagi sebaya umurnya.inna = sesungguhnya Kami ansya’naahunna = Kami jadikan mereka insyaa’an = dengan kejadian faja’alnaahunna = maka kami jadikan mereka abkaaran = gadis-gadis perawan.
Dari kelima kelompok ayat tersebut hanya yang nomer 5 yang secara jelas menyebut objek yang dimaksud adalah berjenis kelamin wanita, sedangkan keempat ayat lainnya tidak secara jelas mengindikasikan apakah yang dimaksud adalah wanita atau bukan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia kelompok ayat nomer 5 dibuat penjelasan dalam tanda kurung ‘bidadari’. Tafsir Jalalain juga memberikan penjelasan bahwa makhluk yang diciptakan tersebut adalah bidadari sekalipun Al-Qur’an tidak menyebut objeknya, dan kata ‘insyaa’an’ diartikan dengan kata ‘langsung’ yaitu yang diciptakan tanpa melalui proses kelahiran terlebih dahulu, sedangkan Tafsir Al-Mishbah tidak mengartikannya sebagai ‘bidadari’ dan tetap memakai kata ganti ‘mereka’, sedangkan kata ‘insyaa’an’ ditafsirkan dengan kata ‘sempurna’, sehingga bunyinya: ”Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan penciptaan sempurna.”, suatu penafsiran yang belum tentu berarti ‘diciptakan tanpa melalui proses kelahiran’.
Selanjutnya Ustadz Quraish Shihab menjelaskan kalimat ‘lagi sebaya umurnya’ dengan menyampaikan hadist diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bahwa seorang wanita tua datang kepada Nabi Muhammad SAW memohon dido’akan agar masuk surga. Nabi menjawabnya dengan bersabda (dengan tujuan bergurau sambil mengajar):”Beritahu wanita itu, bahwa dia tidak akan memasukinya dalam keadaan tua. Sesungguhnya Allah berfirman (lalu beliau membacakan ayat-ayat diatas) . Hadist ini diriwayatkan juga oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani, namun oleh Ibnu Hajar dinilai merupakan hadist lemah.
Kalau kita merujuk kepada penjelasan ini maka ‘diduga keras’ wanita yang dimaksud QS[56:35-37] adalah manusia biasa yang mendapat anugerah surga dan bukan bidadari seperti yang dimaksud dengan kata ‘huurin ‘iin’ dalam QS[44:54], QS[52:20], QS[56:22].
Dalam keempat kelompok ayat yang lain, Al-Qur’an menyampaikan adanya ‘sesuatu’ di surga yang mempunyai ciri-ciri: punya pandangan yang tidak liar, jelita matanya ibarat telur burung unta, berumur sebaya, sopan dan selalu menundukkan pandangan, belum pernah disentuh manusia, seperti permata yakut dan marjan, yang cantik (atau bagus), putih dan tersimpan dalam mahligai.
Kita tentunya boleh saja mengartikan ciri-ciri ini secara fisik dan harfiah dan itu mempunyai ‘peluang besar’ menuju kepada sosok wanita. Namun tidak salah juga kalau beberapa ahli tafsir mengartikan ciri-ciri tersebut secara majaazi, bahwa maksud ‘pandangan tidak liar’ adalah ‘sesuatu’ tersebut punya perhatian hanya terbatas kepada pasangannya, pandangan yang terbuka lebar penuh perhatian, murni, tulus dan setia kepada pasangan, intinya betul-betul merupakan ‘sesuatu’ yang cocok di hati. Keempat kelompok ayat tersebut tidak menjelaskan apa jenis kelamin ‘sesuatu’ itu. Dan ternyata ini juga sejalan dengan pengertian kata ‘huurin ‘iin’.
Penjelasan ini juga tidak membatasi penafsiran bahwa yang dimaksud adalah ‘sesuatu’ yang diciptakan di surga atau merupakan manusia yang menjadi penghuni surga, baik laki-laki maupun perempuan.Tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa kata ‘hur’ adalah bentuk jamak dari kata ‘hauraa’ yang pertama menunjuk kepada jenis kelamin feminin dan yang kedua jenis maskulin. Ini berarti bahwa kata ‘hur’ adalah kata yang netral kelamin – bisa laki-laki dan bisa perempuan. Kata ‘hur’ sendiri menurut ar-Raghib al-Ashfahaani adalah tampak sedikit keputihan pada mata disela kehitamannya (dalam arti yang putih sangat putih dan yang hitam sangat hitam). Bisa juga ia berarti ‘bulat’, ada juga yang mengartikan ‘sipit’. Sedangkan kata ‘iin’ adalah jamak dari kata ‘aina’ dan ‘ain’ yang berarti’ bermata besar dan indah’.
Penjelasan kata ‘huurin ‘iin’ berdasarkan arti katanya ternyata sejalan dengan bunyi ayat lain tentang ‘sesuatu’ yang akan menjadi pasangan manusia yang masuk surga nantinya.Pertanyaan muncul dengan adanya ayat [52:20] ..dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. Kata ‘dikawinkan’ berasal dari kata ‘zawwajnaahum’ tidak dipahami dalam arti mengawinkan. Ini bukan saja karena di akherat ini tidak ada lagi ‘taklif’ dan kewajiban syariat berupa akad nikah dan lain-lainnya, tetapi juga karena ayat diatas menggunakan idiom ‘bi’ ketika menggunakan kata ‘zawwaja’.
Biasanya kata mengawinkan diungkapkan tanpa menyertakan idiom ‘bi’ yakni ‘zawwaja fulanah’ atau dalam konteks ayat ini – jika yang dimaksud dengannya mengawinkan tentu redaksinya ‘zawwajnaahum Huur ‘in’ dan bukan ‘zawwajnaahum bihuurin ‘iinin. Kalau begitu maka arti kata ‘zawwajnaahum’ bisa kita artikan lebih luas dan tidak hanya terbatas pada hubungan perkawinan antara laki-laki dan wanita. Kata ini mungkin boleh diartikan dengan ‘dipasangkan’ yang punya arti luas.Sekarang kita coba mencari penjelasan Al-Qur’an tentang adanya hubungan antar penghuni surga, misalnya disampaikan dalam ayat ini:
[2:25] "Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya."
Dalam tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin al-Mahalli secara jelas mengartikan ‘azwaajun muthahharatun’ sebagai isteri-isteri yang disucikan, sedangkan dalam Tafsir Al-Mishbah, Ustadz Quarish Shihab mengartikannya dengan ‘pasangan-pasangan yang disucikan’, sekalipun dalam beberapa penjelasannya beliau menyinggung bahwa yang dimaksud pasangan itu adalah suami atau isteri. Kalimat ‘azwaajun muthahharatun’ terkait dengan surga ini juga diungkapkan dalam QS[3:15], QS[4:57]. Kata ’azwaajun’ juga dipakai dalam beberapa ayat Al-Qur’an yang merujuk kepada ‘istri’ antara lain pada ayat QS[2:232], QS[9:24], QS[24:6]. QS[64:14], QS[66:5], dst. Sedangkan kata yang sama dan diartikan ‘pasangan’ digunakan pada ayat: QS[78:8], QS[6:143], QS[35:11], QS[36:36], QS[38:58], kata ‘pasangan’ pada ayat terakhir tidak selalu diartikan sebagai suami atau istri, misalnya QS [6:143] ..(yaitu) delapan binatang yang berpasangan (tsamaaniyata azwaajin).
Berdasarkan beberapa penjelasan ayat Al-Qur’an diatas, marilah kita mencoba untuk ‘berandai-andai’ tentang surga.
Ternyata Al-Qur’an mengisyaratkan bahwa di surga, manusia yang jadi penghuninya mempunyai pasangan dan hal tersebut tidak selalu diartikan sebagai pasangan suami istri, dan yang dikatakan sebagai ‘bidadari’ itu ternyata tidak hanya terbatas pada pengertian pasangan wanita saja. Persoalan ini tidaklah aneh dalam sejarah penafsiran Al-Qur’an, karena sebagai firman Allah, kemampuan kita untuk menafsirkannya sangat terbatas. Ketika Allah menyampaikan hanya satu kata firman-Nya, kelihatan tidak cukup jutaan buku yang dibuat manusia untuk menjelaskan maknanya, Allah menyatakan:
[18:109] "Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”.
[31:27] "Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Maka ketika manusia berusaha menjelaskan kalimat-kalimat Allah, apalagi yang terkait dengan sesuatu yang (masih) ghaib, tidak akan habis-habisnya manusia memberikan penafsirannya, hebatnya seluruh penafsiran tersebut seolah-olah ‘tenggelam’ dalam kalimat-kalimat Allah tersebut.Di sisi lain, Al-Qur’an juga bisa berfungsi sebagai cermin bagi manusia, memantulkan apa yang ada dalam diri kita ketika berhadapan dengannya.
Pada mulanya Al-Qur’an diturunkan pada bangsa Arab dan para penafsir awal adalah kaum laki-laki dari bangsa tersebut, maka mereka yang memang terkenal punya karakter ‘manusia gurun yang perkasa’ terutama terkait dengan wanita, ayat tersebut ‘memantulkan’ karakter tersebut sehingga muncul penafsiran yang ‘berpihak’ kepada kaum lelaki yang menggambarkan wanita cantik, putih bersih, setia, tunduk, dan inilah penafsiran yang muncul bertahun-tahun sehingga membentuk ‘stereotip’ tentang surga yang dipenuhi bidadari. Tentu saja ini tidaklah salah karena seperti disebutkan sebelumnya, penafsiran ini seolah-olah ‘tenggelam’ di dalamnya dan artinya tetap bisa diterima.
Namun bagaimana kalau yang berhadapan dengan ayat tersebut adalah seorang wanita? Kita juga ‘mempersilahkan’ wanita tersebut ‘berandai-andai’ bahwa di surga nanti dia akan menemui pasangan, bisa seorang suami, bisa juga suaminya yang di dunia, bisa juga wanita lain sebagai sahabat ‘sejiwa’, teman terdekat yang tidak akan mengkhianati dan yang selalu mendampingi, tidak seperti pasangannya di dunia seperti kekasih, suami, sahabat yang (hampir dapat) dipastikan pernah berkhianat.
Misalkan seorang yang terobsesi untuk menjadi vokalis group heavy metal, namun sayang cita-citanya kandas karena umurnya sudah menjelang ’50-an dan group musik yang dibentuknya ketika remaja hancur berantakan akibat ketidak-kompakan. Apakah kira-kira yang akan dia khayalkan kalau nantinya dia bisa masuk surga? Sangat boleh jadi di surga nanti dia ingin menjadi vokalis dan rocker terkenal, seperti Ian Gillan ataupun Ronny james Dio. Dapatkah kita menebak siapa kira-kira yang akan menjadi ‘bidadari’nya? Maka yang akan menjadi ‘huurin ‘iin’ adalah teman satu group, bisa gitaris model Ritchie Blackmore atau Steve Morse atau drummer jagoan dari grup Deep Purple seperti Ian paice, dll. Temannya tersebut akan menjadi pasangan yang setia, group musiknya tidak bakalan bubar, anggota yang lain hanya punya perhatian dan pandangan terfokus padanya, itulah yang menjadi ‘bidadari’ miliknya di surga nanti, demikian pula dia terhadap sahabat-sahabatnya.
Atau katakanlah anda terobsesi menjadi pemain bola seperti David Beckham, maka yang menjadi ‘huurin ‘iin’ anda adalah pemain lain seperti Garry Neville atau Wayne Rooney serta punya ‘huurin ‘iin’ pelatih sehebat Sir Alex Ferguson. ‘Huurin ‘iin’ anda tersebut merupakan anggota se team anda yang selalu tahu dan mengerti apa maunya anda, mampu memberikan ‘umpan-umpan matang’ agar anda bisa beraksi.
Namun rasanya boleh-boleh saja jika anda adalah seorang yang punya 'naluri edan' model Kaisar Caligula, kaisar Romawi yang gemar mengoleksi perempuan sehingga singgasananya selalu dikelilingi puluhan wanita cantik dan seksi, maka ‘huurin ‘iin’ anda di surga ‘tidak akan jauh-jauh’ dari hal tersebut.
Kalaupun kemudian kita bertanya: ”Lalu, apa maksudnya Allah sengaja memberikan ‘sesuatu’ kelak di surga yang akan menjadi pasangan manusia penghuninya? Apa perlunya?”
Kita mengetahui bahwa manusia adalah makhluk sosial karena tidak bakalan bisa hidup sendiri. Kelihatannya di surga nanti nalurinya sebagai makhluk sosial tidak akan berubah. Maka ketika kelak manusia bersosialisasi di surga dia akan berhadapan dan berinteraksi dengan makhluk-makhluk lain. Dengan menyampaikan adanya ‘huurin ‘iin’ ini, maka Allah – yang sangat mengerti tentang manusia – tidak hanya menyiapkan, makanan dan minuman dan tempat tinggal yang indah, tapi juga menyiapkan ‘masyarakat’ tempat para penghuninya bersosialisasi dan berinteraksi.Ternyata ‘bidadari’ di surga tidak harus perempuan, dan hubungan kita dengannya tidak harus berupa hubungan seksual. Apa yang kita tafsirkan dari penjelasan Al-Qur’an tentang itu merupakan ‘pantulan’ dari obsesi kita sendiri, Allah berfirman:
[43:71] "Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”.
Semasa belajar mengaji di madrasah dulu, pak ustadz pernah mengatakan lebih kurang begini:
"Kelak, jika kalian beruntung masuk sorga, maka apa pun keinginan yang terlintas di benak kalian, niscaya akan segera dipenuhi oleh Allah, bahkan sebelum kalian sendiri sempat mengejapkan mata!"
Artinya, apa yang disediakan oleh Allah di sorga meliputi segala sesuatu yang diinginkan oleh setiap penghuni sorga sendiri. Jadi, apa pun wujud keinginan itu, menjadi sangat tergantung pada angan-angan seseorang. Boleh jadi itu mesum dan boleh jadi juga tidak. Tapi semua itu hanya dapat dibuktikannya sendiri jika dia sangat beruntung dan kelak diijinkan oleh Allah untuk masuk sorga!
Langganan:
Postingan (Atom)
